Panduan lengkap shalat 5 waktu

Edumuslim.org - Mengetahui tata cara shalat yang benar menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi setiap muslim. Realitanya masih banyak kaum muslimin yang belum memahami secara benar praktik ibadah shalat yang selaras dengan Qur'an dan Sunnah. Oleh sebab itu tulisan ini edumuslim.org hadirkan untuk menjawab keresahan yang terpendam dalam benak hati akan kondisi umat islam dalam hal ini.

Insya Allah pada artikel ini kami akan mencoba menguraikan sedetail dan semudah mungkin mengenai gerakan dan bacaan shalat dari niat sampai salam yang kami sertai dengan gambar sebagai ilustrasinya. Kami berharap panduan ini dapat memudahkan pembaca yang sedang belajar tata cara shalat yang benar menurut Al=Quran dan As-sunnah.

Perlu diketahui bahwa sistematika kepenulisan ini berbeda dengan penulisan karya ilmiah khususnya dalam bidang fikih. Disini kami tuliskan penjelasan secara aplikatif pada tiap gerakan-gerakan shalat. Sehingga ini hanya cocok untuk pemula yang baru belajar shalat.

Pendahuluan

Namun sebelum membahas tentang tata cara shalat, terlebih dahulu kita awali dengan hal-hal yang perlu kita ketahui berkaitan dengan masalah shalat, seperti kedudukan shalat, Adab-adab shalat, keutamaan shalat, rukun-rukun shalat dan pembatal-pembatal shalat.

I. Adab-adab Shalat

  • Ikhlaskan niat karena Allah semata
  • Menunaikan shalat tepat waktu
  • Mengenakan pakaian terbaiknya dan suci dari najis
  • Tidak shalat sedangkan makanan sudah terhidang dihadapan
  • Tidak shalat dalam keadaan menahan buang air besar, kentut dan buang air kecil.
  • Menjaga shalat berjamaah di masjid
  • Umpamakan shalat yang dikerjakan adalah kesempatan terakhir maka muncul keseriusan (khusyu')

II. Kedudukan Shalat

  • Shalat adalah tiang penyangga agama
  • Shalat merupakan amal ibadah yang pertama kali akan dihisab sekaligus penentu amal ibadah lainnya.
  • Shalat adalah benteng terakhir agama, jika hilang maka tidak ada lagi agama.
  • Wasiat terakhir Rasulullah untuk ummatnya.
  • Para penegak sholat mendapat pujian dari Allah begitu juga orang-orang yang mengajak keluarganya untuk shalat.
  • Celaan bagi orang-orang yang meninggalkannya atau bermalas-malasan mengerjakannya.
  • Merupakan rukun islam teragung setelah syahadatain.
  • Perintahnya disampaikan secara langsung kepada Nabi Muhammad tanpa perantara Malaikat Jibril.
  • Shalat amalan yang paling dicintai Allah
  • Shalat menjadi kunci pembuka dan penutup kebahagiaan hidup orang-orang beriman.
  • Shalat tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun
  • Allah menamai shalat dengan iman
  • Banyak ibadah lain dibarengkan penyebutannya dengan shalat
  • Allah memerintahkan Rasulnya untuk bersabar dalam mengajak shalat
  • Shalat harus dikerjakan dalam kondisi terbaik dan persyaratan yang banyak
  • Melibatkan seluruh anggota tubuh dalam mengerjakannya.

III. Persiapan Sebelum Shalat

  • Mengetahui masuknya waktu shalat
  • Menutup aurat
  • Suci badan, pakaian, dan tempat shalat dari najis
  • Suci dari hadas kecil dan hadas besar

IV. Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Shalat

  • Berdiri bagi yang mampu
  • Membaca Takbirotul ihram
  • Membaca surat al-fatihah pada setiap rakaat
  • Ruku dengan thuma’ninah
  • Bangkit dari ruku (I’tidal) dengan thuma’ninah
  • Sujud dengan thuma’ninah
  • Duduk diantara dua sujud dengan thuma’ninah
  • Tasyahud akhir dan duduk tasyahud
  • Membaca shalawat pada tasyahud akhir (setelah membaca doa tasyahud)
  • Mengucapkan salam
  • Urut dalam mengerjakan rukun-rukun sholat

V. Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat

  • Menoleh dengan memutar kepala atau dengan mata
  • Mengarahkan pandangan keatas
  • Makhashur (tolak pinggang), yaitu meletakkan tangan pada pinggang
  • Memegang rambut, lengan baju atau baju
  • Menjalinkan atau membunyikan jari-jari
  • Menyapu atau mengusap pasir yang menempel dari anggata sujud lebih dari satu kali
  • Melakukan perbuatan yang sia-sia
  • Membaca ayat quran ketika ruku atau sujud
  • Menahan buang air kecil dan buang air besar
  • Shalat dihadapan hidangan
  • Duduk berjongkok dan menghamparkan dua lengan

VI. Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat

  • Meninggalkan salah satu rukun shalat jika pelakuna tidak mengulanginya Ketika shalat atau tidak lama setelah shalatnya
  • Makan atau minum
  • Perkataan yang tak ada kaitannya dengan shalat
  • Tertawa dengan terbahak-bahak bukan tertawa tersenyum
  • Melakukan banyak gerakan selain gerakan-gerakan shalat
  • Menambah rakaat dengan jumlah sama karena lupa
  • Teringat shalat sebelumnya

VII. Hal-Hal Yang Boleh Dilakukan Saat Shalat

  • Melakukan gerakan yang sekedarnya
  • Berdehem ketika diperlukan (karena dharurat
  • Membetulkan posisi orang yang berada disuatu shaf dengan menariknya keshaaf depan
  • Menguap dan meletakkan tangan dimulut
  • Memulaikan bacaan bagi imam serta membaca tasbih untuknya pada saat lupa
  • Mendorong orang yang melintas didepannya
  • Membunuh ular atau kalajengking yang menuju kearah orang yang sedang shalat
  • Menggaruk badan dengan tangan
  • Memberi isyarat dengan telapak tangan kepada orang yang memberi salam

Tata Cara Shalat

Perhatikan dan cermati baik-baik paragraf demi paragraf dibawah ini:

1. Berdiri Menghadap Kiblat

Pertama-tama berdiri dengan tegak menghadap kiblat, Berdiri hukumnya wajib untuk shalat fardhu bagi yang mampu, dengan merenggangkan kaki dengan lebar sejengkal, agar posisi kaki lurus dengan bahu, arahkan pandangan mata ke tempat sujud, tidak melirik kanan kiri apalagi ke atas.

Berdiri menghadap kiblat
Posisi badan berdiri tegak dan menghadap arah kiblat

Pandangan mata ke arah tempat sujud


2. Niat

Niat dilakukan dalam hati tanpa melafalkan, Niat dilakukan sebelum memulai shalat (takbiratul ihram). Niat dalam sholat berarti menentukan dalam hati shalat yang hendak dikerjakan Ikhlas karena Allah.

3. Takbirotul Ihrom

Setelah berdiri tegak dengan pandangan mata ke arah tempat sujud, lakukan takbirotul ihram dengan membaca Allahu Akbar seraya mengangkat kedua belah tangan sejajar dengan bahu dan menyejajarkan ibu jari tangan dengan daun telinga bagian bawah dan jari-jari tangan sedikit direnggangkan serta telapak tangan menghadap ke kiblat. Lalu meletakan tangan kanan diatas punggung telapak tangan kiri atau tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri lalu letakan diatas dada.


Tangan diangkat sejajar telinga

Tangan diangkat sejajar bahu


Tangan diletakkan diatas dada

Telapak tangan kanan diatas punggung telapak tangan kiri

Tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri


4. Doa Iftitah

Setelah kedua tangan sedekap dengan sempurna selanjutnya membaca doa iftitah secara lirih. Doa iftitah dibaca saat shalat sendirian maupun berjamaah. Berikut ini salah satu bacaan atau doa iftitah yang bisa diamalkan:

Doa iftitah

Atau membaca: 

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (وََأَنَا مِِنَ الْمُسْلِمِينَ)، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ لِى إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Wajjahtu wajhiya lil-lażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan muslima wa mā ana minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāyā wa mamātī lillkāhi rabbil-‘ālamīn, lā syarīka lahu wa bi żālika umirtu wa ana minal- uslimīn. Allāhumma antal-maliku, lāilāha illā anta, anta rabbī wa ana ‘abduk, ẓalamtu nafsī wa‘taraftu bi żambī, fagfir līzunūbī jamī‘an, innahu lā yagfiruż-żunūba illā anta, wahdinīli aḥsanil-akhlāq, lā yahdī li ḥsanihā illā anta waṣrif ‘annīsayyi’ahā lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta, labbaika wa sa‘daika, wal-khairu kulluhu fī yadaika wasy-syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika, tabārakta wa ta‘ālaita, astagfiruka wa atūbu ilaik.

5. Membaca Surat Al-Fatihah

Membaca surat Al-fatihah hukumnya wajib. Membaca surat Al fatihah dalam shalat terdapat ketentuan tersendiri, seperti diawali membaca isti’adzah atau ta’awudz sebelum membaca basmalah, tidak lupa membaca Aamiin setelahnya. Kemudian membaca surat apa saja yang sudah dihafalkan (jika sholat sendirian), apabila shalat berjamaah maka cukup diam dan mendengarkan bacaan imam dengan khusyu’.

Surat alfatihah png image
Surat alfatihah ayat 1-7


Berdiri tegak

Cara Membaca Surat Al-fatihah:

•  Awali dengan membaca ta’awudz secara lirih
•  Kemudian membaca basmalah dengan sirr (lirih) atau jahr (bersuara) pada shalat jahriyah -jika sendirian atau menjadi imam-
• Baca dengan tartil, perhatikan makhraj huruf, panjang pendek, tanda baca, waqaf dan tasydidnya.
• Berhenti pada setiap ayat
• Baca dengan menggerakan lisan tidak sah jika hanya terbersit dalam hati
• Membaca Aamiin setelah selesai membaca waladhdhoolliin.

6. Ruku’

Ruku' dengan membungkukan badan sehingga punggung rata dengan kepala

Kedua tangan menggenggam kedua lutut

Pandangan mata tertuju ke arah tempat sujud

Kedua tangan diletakan pada lutut dengan sedikit digenggam

Selanjutnya ruku’ dengan mula-mula mengangkat kedua tangan seperti pada saat takbiratul ihram, sambil membaca Allahu Akbar lalu membungkukan badan hingga lurus/merata antara punggung dan kepala, pandangan mata tertuju ke arah tempat sujud, tidak mendongak ke atas atau terlalu menunduk ke bawah, letakan telapak tangan kanan pada lutut kanan dan telapak tangan kiri pada lutut kiri dengan sedikit menggenggam, lakukan dengan tenang (tuma’ninah) lalu membaca doa ini sebanyak 1 kali:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ
 

“Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika Allāhummaghfir lī”

Artinya: ”Maha Suci Engkau Ya Allah, Ya Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, ampunilah aku Ya Allah.”

Atau:


سُبْحَانَ رَبَّيَ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَ رَبَّيَ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَ رَبَّيَ الْعَظِيْمِ
 

Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm, subḥāna rabbiyal-‘aẓīm.

Artinya: Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung, Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung, Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung

7. I’tidal (bangkit dari ruku')

Bangkit dari rukuk dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu


Kedua tangan diletakkan disisi kanan dan kiri

Kemudian bangkit dari ruku’ (I’tidal) seraya membaca Sami’allahu liman hamidah sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu atau telinga, sambil mengangkat badan ke posisi berdiri tegak, lalu letakan tangan dengan lurus di bagian samping (irsal), kemudian membaca:


رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

 

Rabbana walakal hamd.


Artinya: Ya Tuhan kami bagi-Mu lah segala pujian.


Atau :


اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
 

Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu

Artinya: Ya Allah Tuhan kami bagi-Mu lah segala pujian

8. Sujud





Turun untuk sujud dengan mendahulukan tangan sambil membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) lalu sujud dengan cara meletakkan kedua lutut di tempat sujud dan telapak kaki ditegakkan dengan menekukkan jari-jari kaki ke arah kiblat, meletakkan kedua tangan, dahi dan hidung di tempat sujud, merenggangkan kedua tangan dari lambung, mengangkat kedua siku, telapak tangan diletakkan sejajar dengan bahu serta merapatkan jari-jari tangan dan tidak digenggamkan. Masih pada posisi sujud lalu membaca doa:


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّناَ وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ

“Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika Allāhummaghfir lī”

Artinya: ”Maha Suci Engkau Ya Allah, Ya Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, ampunilah aku Ya Allah).”


Atau :

 
سُبْحَانَ رَبَّيَ الْاَعْلَى سُبْحَانَ رَبَّيَ الْاَعْلَى سُبْحَانَ رَبَّيَ الْاَعْلَى

Subḥāna rabbiyal a’laa, Subḥāna rabbiyal a’laa, Subḥāna rabbiyal a’laa,

Artinya: Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi, Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi, Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi

9. Duduk diantara dua sujud


 

Bangun dari sujud untuk melakukan duduk diantara dua sujud dengan thuma’ninah dan posisi duduk Iftirasy sambil membaca takbir namun tanpa mengangkat tangan, setelah duduk dengan sempurna bacalah doa berikut ini:


اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Allāhummagfir li warḥamnī wajburnī wahdinī warzuqnī


Artinya: Yaa Allah Ampunilah aku, kasihanilah aku, tutupilah kekuranganku, tunjukilah aku dan berilah aku rizki.


Keterangan: Duduk iftirasy adalah menjulurkan telapak kaki kiri ke kanan dan pantat duduk di atasnya sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari kaki ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat serta meletakkan telapak  tangan kanan di atas ujung paha kanan dekat dengan lutut dan telapak tangan kiri di atas ujung paha kiri dekat dengan lutut, dengan jari-jari tangan sedikit direnggangkan dan diarahkan kekiblat serta ujung-ujung jari sampai ke lutut.

 

10. Sujud kedua

Setelah duduk di antara dua sujud dan membaca doa, maka kemudian membaca takbir untuk melakukan sujud yang kedua kalinya (tanpa mengangkat tangan) dan membaca doa seperti pada sujud pertama.

11. Duduk Istirohah

Setelah itu bangun dari sujud seraya membaca takbir (tanpa mengangkat tangan) dan duduk istirohah (julus itirahah) seperti duduk iftirasy namun hanya sebentar, lalu berdiri untuk raka’at yang kedua dengan cara menekankan telapak tangan pada lantai.

Cara Melaksanakan Rakaat Kedua

Setelah bangkit dan berdiri dari sujud kedua pada rakaat pertama, Berdirilah dan lakukanlah praktik shalat seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, hanya saja tidak membaca doa iftitah. Artinya setelah posisi badan berdiri dengan tegak, letakkanlah kembali kedua tangan di atas dada, kemudian bacalah taawudz, basmalah, surat al-Fatihah dan lanjutkan dengan membaca surat atau ayat al-Quran seperti dilakukan pada raka’at pertama. Kemudian lakukanlah gerakan-gerakan seperti ruku’, I’tidal, sujud pertama, duduk diantara dua sujud dan sujud kedua dan bacaan-bacaannya seperti yang dilakukan pada rakaat pertama.

12. Duduk Tasyahud Akhir untuk Shalat yang Berjumlah Dua Rakaat




Apabila shalat yang dilakukan adalah shalat dua rakaat, seperti shalat subuh, shalat Jumat, dan shalat-shalat sunah dua rakaat, maka setelah bangkit dari sujud kedua pada rakaat kedua, lakukanlah duduk tasyahud akhir untuk mengakhiri shalat dengan tata cara sebagai berikut:

a. Lakukan Duduk Tawaruk

Duduk tasyahaud akhir dilakukan untuk mengakhiri semua shalat termasuk shalat dua rakaat. Duduk tasyahud akhir dilakukan dengan cara duduk tawaruk. 


Keterangan: Yang dimaksud dengan duduk tawaruk ialah duduk dengan memasukkan (memajukan) kaki kiri di bawah kaki kanan, sementara telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari ditekuk dan ujungnya mengarah ke kiblat dan duduk dengan bertumpukan pantat di atas lantai (di tempat salat). Bahwa duduk tasyahud akhir pada salat dua rakaat, baik shalat wajib maupun shalat-shalat sunat dua rakaat, dilakukan dengan cara duduk tawaruk pada rakaat kedua.



Duduk tawaruk

b. Meletakkan Kedua Telapak Tangan di atas Kedua Lutut dan Mengacungkan Jari Telunjuk

Selanjutnya jika sudah posisi duduk tawaruk maka letakkanlah kedua telapak tangan di atas kedua lutut, dengan menghamparkan jari-jari tangan kiri di atas lutut kiri. Sedang jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kanan digenggam, dan ibu jari tangan kanan menyentuh jari tengah tangan kanan dan jari telunjuk tangan kanan diacungkan pada saat memulai membaca doa tasyahud.


c. Membaca Doa Tasyahud dan Shalawat

Bersamaan dengan duduk tawaruk pada rakaat terakhir sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bacalah doa tasyahud berikut ini:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

At-taḥiyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhis-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.

Membaca Sholawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa āli Muḥammad, kamā bārakta‘alā Ibrāhīm wa āli Ibrāhīm. Innaka ḥamīdum majīd.

d. Membaca Doa Perlindungan dari Berbagai Keburukan


Setelah selesai membaca salawat kepada Nabi saw, bacalah doa perlindungan berikut ini sebelum salam,


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَمِنْ فتِنْةَ المَحْيَاوَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

Allahumma inni audzubika min 'adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.


Artinya: "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal.

e. Salam Penutup


Setelah selesai membaca doa perlindungan kepada Allah seperti tersebut diatas, maka tibalah saatnya mengakhiri shalat dua rakaat dengan cara mengucapkan salam sebanyak dua kali dibarengi menolehkan pipi kanan ke arah kanan dan pipi kiri menoleh ke sebelah kiri hingga nampak pipinya dari belakang. Lafadz salam yang bisa diucapkan ada dua macam, yaitu:


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَتُهُ

(1) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh, dan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ

(2) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh )tanpa ditambah dengan wa barakātuh.

 

Tata Cara Shalat Yang Berjumlah Tiga Dan Empat Rakaat (Dzuhur, Ashar, Maghrib Dan ‘Isya)

Apabila shalat yang dilakukan adalah shalat wajib tiga rakaat, yaitu Maghrib (atau juga shalat wajib empat rakaat, yaitu Zuhur, Asar, dan Isya), maka setelah bangkit dari sujud kedua pada rakat kedua tidak langsung berdiri akan tetapi lakukan duduk tasyahud awal (duduk iftirasy) dengan kaifiat dan ucapannya sebagai dijelaskan di bawah ini.

a. Cara Duduk Tasyahud Awal

Setelah bangun dari sujud kedua pada rakaat kedua dengan mengucapkan takbir tanpa mengangkat kedua tangan, lalu lakukan duduk tasyahud awal untuk shalat tiga atau empat rakaat. Duduk tasyahud awal dilakukan seperti duduk antara dua sujud, yakni duduk iftirasy. Kemudian letakkanlah telapak tangan kanan di atas lutut kanan dan telapak tangan kiri di atas lutut kiri, sembari jari-jari tangan kiri dihamparkan, sementara jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kanan digenggam, ibu jari menyentuh jari tengah dan jari telunjuk diacungkan pada saat memulai membaca doa tasyahud (at-taḥiyyātu lillāh dan seterusnya). Semuanya dilakukan persis seperti apa yang dilakukan pada duduk tasyahud akhir. Perbedaannya terletak pada cara duduk. Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sementara duduk tasyahud akhir adalah duduk tawaruk.

b. Membaca Doa Tasyahud dan Sholawat

Saat duduk tasyahud awal dalam shalat tiga atau empat rakaat, bacalah doa tasyahud awal seperti doa tasyahud akhir setelah itu lanjutkan membaca sholawat kepada Nabi saw seperti sholawat yang dibaca pada duduk tasyahud akhir. 

Berdiri Untuk Mengerjakan Rakaat Ketiga

a. Berdiri menuju rakaat ketiga sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu sambil mengucapkan takbir seperti pada takbiratul ihram. Setelah pada posisi berdiri dengan tegak, selanjutnya bacalah taawudz, basmalah dan surat al-Fatihah yang semuanya dibaca secara sirr (pelan). Pada rakaat ketiga ini tidak ada bacaan doa iftitah dan tidak ada bacaan surah atau ayat-ayat al-Quran.

b. Kemudian lakukan gerakan ruku’ berserta bacaannya, iktidal beserta bacaannya, sujud pertama beserta bacaannya, duduk antara dua sujud beserta bacaannya dan sujud kedua beserta bacaannya. Lakukan persis seperti apa yang dilakukan pada rakaat pertama dan rakaat kedua.

c. Mengakhiri shalat. Apabila shalat yang dilakukan adalah shalat tiga rakaat, yaitu shalat Magrib, maka akhirilah dengan duduk tasyahud akhir (tawaruk) dan mengucapkan salam seperti mengakhiri shalat yang berjumlah dua rakaat diatas.

Mengerjakan Rakaat Keempat Bagi Shalat Wajib Empat Rakaat

Apabila shalat yang dilakukan adalah shalat wajib empat rakaat,yaitu salat Zuhur, salat Asar, atau salat Isya, maka setelah selesai dari rakaat ketiga bangkitlah dari sujud kedua sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa mengangkat kedua tangan, lalu duduk sejenak yang disebut duduk istirahat (julūs al-istirāḥah), lalu berdiri tegak tangan di atas dada, lakukan seperti apa yang dilakukan pada rakaat ketiga, yaitu membaca taawuz, basmalah dan al-Fatihah yang yang semuanya dibaca sir (pelan) dan, pada rakaat keempat ini seperti halnya pada rakaat ketiga, tidak membaca surah atau ayat-ayat al-Quran. Setelah itu lakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk antara dua sujud, sujud kedua beserta dengan bacaan-bacaannya seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, kedua, dan ketiga. Setelah selesai dari sujud kedua pada rakaat keempat ini, lakukan duduk tawaruk beserta bacaannya dan kemudian salam untuk mengakhiri shalat, persis seperti mengakhiri shalat dua rakaat dan shalat tiga rakaat.

c. Membaca Doa-doa Pilihan

Setelah selesai membaca doa tasyahud akhir dan sholawat kepada Nabi saw, dianjurkan sebelum salam membaca doa-doa pilihan berikut ini:

1. Doa Terhindar Dari Fitnah Dajjal

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Allahumma inni audzubika min 'adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal.


Artinya: "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal"


2.  Doa Permohonan Ampun

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allahumma inni zholamtu nafsii zhulman katsiroo wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta. faghfir lii maghfiratan min ‘indik, warhamnii innaka antal ghofurur rohiim.


Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang besar. Tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu. Kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

3. Doa Agar Menjadi Ahli Dzikir

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik

 
Artinya: Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu.”

Salam Penutup

Terakhir adalah membaca salam dengan cara menengok ke sebelah kanan sampai pipi terlihat dari makmum yang dibelakang.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَتُهُ


(1) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh, dan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ

(2) as-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh tanpa ditambah dengan wa barakātuh

Doa dan Dzikir Setelah Shalat


Selesai shalat hendaknya membaca doa dan dzikir terlebih dahulu. Dzikir dan doa ini hanya untuk shalat fardhu. Dibaca oleh laki-laki maupun perempuan. Shalat berjamaah maupun shalat sendirian. Dibaca dengan suara lirih dan sendiri-sendiri.

Doa dan dzikir setelah shalat


Penutup

Alhamdulillah uraian mengenai tata cara shalat 5 waktu telah tuntas kami tulis. Semoga apa yang kami tulis pada website edumuslim.org ini bermanfaat bagi kaum muslimin terutama yang sedang belajar shalat. Tulisan ini juga kami rekomendasikan kepada guru di sekolah atau madrasah untuk menjadi bahan pembelajaran bagi putra dan putri didiknya. Perlu kami sampaikan penjelsan pada artikel ini merupakan inti sari dari beberapa kitab fikih yang membahas bab shalat. Kitab-kitab yang menjadi referensi penulis diantaranya Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, Minhajul Muslim Abu bakar Al-Jazairi dan buku fikih kebencanaan terbitan Muhammadiyyah. Demikian apa yang dapat kami sampaikan. Jika terdapat kekeliruan pada artikel ini silahkan sampaikan pada kolom komentar. Terima kasih. Jazakumulloh khairan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama